Sunday, September 12, 2010

this is my heaven, and i fight for it...

Tulis saja pasti akan ada gunannya....

ya, saya mengutip dari seorang teman yang tentu saja ia kutip dari orang lain...sebenarnya saat ini sedang tidak ada sesuatu yang ingin saya tulis, tapi ada rasa ingin berbagi..tapi saya sendiri tidak tahu apa yang ingin saya bagi saat ini...ada perasaan gundah, resah,takut, dan...
takut, itu memang kata yang cukup bersahabat dengan diri saya. saya masih ingat betul seperti apa rasa takut yang tiba-tiba menghajar saya ketika saya pertama kali masuk kampus. Dengan image kampus yang katanya senioritas. Saya takut!!!tapi ketika saya jalani beberapa tahun, akhirnya saya pun menguasai kampus tersebut. dan ketakutan tetaplah sekedar ketakutan. saya masih ingat betul pertama kali manggung dengan band saya yang namanya saat itu belum hard to kill, namun beberapa dari personel di band itu personel hard to kill. saya ingat band sebelum saya tampil memainkan Nirvana, wawwww....keren sekali perform mereka saat itu. Dan lagi-lagi rasa takut menghajar batin saya. F*CK....sampai akhirnya band saya di panggil, saya setting alat dengan kemampuan ala kadarnya,  yang ada di kepala saya ialah, apapun itu lakukan dengan sangat fun, dan akhirnya intro lagu dari Soulfly dengan judul Tribe saya mainkan, yeah....adrenalin seperti mengalir dalam darah saya, ketakutan tetaplah sebuah ketakutan. beberapa hardcore kids dan metalheads berdansa dengan liarnya di depan saya...FUCK YEEEAAAHHHHH......Dan saat ini ketakutan kembali menyapa saya...agak sulit untuk menterjemahkan rasa takut kali ini. ketakutan yang begitu begitu besar namun saya yakin ini hanyalah rasa takut yang kerap menyapa saya untuk memberikan kekuatan. Saya percaya rasa takut itu hadir justru bukan untuk melemahkan seseorang namun justru memberikan kekuatan. Saya percaya betul jika satu rasa yang sifatnya negatif di tanggapi dengan pola pikir positif tentu akan memberikan dampak positif bagi seseorang. Saya meyakini bahwa ini merupakan ketakutan terbesar dalam hidup saya untuk saat ini dan saya yakin justru rasa takut ini akan memberikan kekuatan yang begitu besar dan hebatnya bagi diri saya.

Thursday, September 2, 2010

Perjalanan di Tanah Suci...

Tidak pernah sebelumnya terpikirkan oleh saya bahwa suatu hari nanti saya akan menginjakkan kaki saya di tanah suci, Mekah. saya seorang pendosa yang sangat kotor dan tidak suci. ketika tawaran sampai ditelinga saya, saya bingung mengiyakan atau tidak. karena itu tadi, pengakuan dosa bahwa saya seseorang yg kotor dan penuh dosa, yang mengakibatkan ketakutan pada diri saya. banyak cerita-cerita yang sampai ke telinga saya bahwa, apa yang kita lakukan sehari-hari disana nanti akan mendapatkan sentilan. hari demi hari saya semakin takut ketika akhirnya saya mengiyakan tawaran tersebut. apa yang membuat saya mengiyakan iyalah, saya teringat dengan percakapan papa da mama beberapa bulan sebelum papa pergi. begini, "pah, kita umroh yuk bulan maret nanti, atau gak tunggu mama pensiun aj yah? kira-kira mama kuat gak yah pah?" dan papa menjawab, "pasti kuat mah". tidak lama papa pergi meninggalkan kami sekeluarga dan meninggal janji kepada mama untuk umroh. maka egois sekali rasanya jika saya hanya memikirikan kira-kira sentilan apa yang akan saya hadapi disana sedangkan mama sangat menginginkan perjalanan ini, maka ketika saya mendapat tawaran untuk mendampingi mama, saya mengiyakan. dengan alasan bahwa saya mendampingi mama dan menebus janji papa yang tidak sempat di jalankan. tulisan ini bukan lah sebuah tulisan yang nantinya akan menceritakan detail perjalanan saya, dan saya juga tidak menceritakan pengalaman spiritual saya disana seperti apa, dan saya juga tidak bilang bahwa saya telah tobat dengan sepenuhnya, namun dua hal yang saya pelajari disana ialah ilmu sabar dan ikhlas. kali ini saya hanya sekedar berbagi hasil dokumentasi saya selama disana yang telah di edit oleh seseorang yang biasa saya panggil "ade" ade yang saya maksud itu ialah sosok yang ada di tulisan "dia" itu "kamu".


Entah ini berada di ketinggian berapa dan sudah berada dimana tapi saya senang sekali melihat langit sore itu.


Suasana malam hari di halaman Masjid Nabawi di malam hari, begitu banyak anak kecil berlarian, dan para orang tua mereka tidak sungkan untuk sekedar duduk-duduk menikmati udara dan keindahan masjid dimalam hari.


Suasana Masjid Nabawi di pagi menjelang siang hari. cuaca memang tidak panas namun memang matahari silau sekali, sehingga payung di halaman Masjid Nabawi di buka.


Seperti ini payung yang saya maksud, sehingga para jemaah yang ingin melakukan shalat namun di dalam sudah tidak muat ataupun telat menuju kedalam tetap bisa melaksanakan ibadah tanpa harus merasa kepanasan.

Salah satu hal yang paling saya suka di sekitar masjid ini ialah para pedagang beserta dagangannya, masing-masing dari mereka saling berlomba untuk menarik hati para jemaah untuk membeli dagangan mereka.


Segala kemungkinan bisa saja terjadi di Tanah Suci ini, saya lupa ini masjid apa namanya, tapi ada satu kejadian yang cukup mengetuk hati saya. namun dengan kejadian ini konon katanya, kita akan kembali ke tanah suci ini. ya saya berharap saya  bisa kembali ke Tanah Suci beserta dengan seorang wanita yang akan menjadi pendamping saya hingga tua nanti.


ini mama saya...nuff said...!!!


ini saya, yang memakai hodie berwarna biru tentunya...seingat saya ini sekitar pukul 11 waktu madinah yah, kalau di Jakarta jam 11 siang memakai hodie merupakan satu tindakan tolol kecuali kita sedang berkendara motor atau di dalam ruangan ber-ac. tapi disini saya sama sekali tidak merasakan kepanasan. justru hawa sejuk yang saya rasakan. maka hodie ialah solusi dari hawa dingin tersebut.


ini dia, susu unta.mungkin dari salah satu unta yang saya pegang-pegang tadi. awalnya saya agak ragu untuk mencoba susu unta tersebut. saya berada di tengah padang pasir, tidak ada tempat singgah yang sekiranya bisa saya singgahi jika efek dari susu unta tersebut tidak cocok dengan perut saya. tapi setelah saya pikir-pikir, kapan lagi saya mencoba susu unta segar yang baru saja di perah. Dan akhirnya rasa penasaran terpuaskan dan ketakutan hanyalah sebuah ketakutan.


Ini dia, agak kesulitan saya mencari foto yang satu ini, ternyata berada di hp saya. Ditempat ini lah, Nabi Adam dan Siti Hawa di pertemukan kembali setelah dipisahkan beberapa lama. Saya lupa persisnya seperti apa sejarahnya, namun kebanyakan umat muslim percaya bahwa apabila kita berdoa untuk dipertemukan dengan jodoh kita, insya Allah akan terkabul. Saya pun tidak ketinggalan berdoa untuk dipertemukan dengan jodoh saya, walaupun saya tidak ikut mendaki ke atas bukit dikarenakan rombongan kami tidak berlama-lama di tempat ini.

kota kedua yang saya kunjungi ialah Mekkah, rasa tak percaya masih menyelimuti pikiran dan hati saya. Terlebih ketika saya akhirnya melihat Kabbah dengan mata kepala saya sendiri. Beberapa hasil dokumentasi saya selama di Mekkah, tapi saya agak kesulitan untuk mendokumentasikan Kabbah karena ketakutan membawa digicam kedalam masjid nabawi dan hasil foto melalui ponsel saya pun kualitasnya tidak terlalu baik, padahal berkali-kali saya coba ambil dalam berbagai angle tapi memang Allah SWT tidak meridhoi saya untuk mendokumentasikannya dengan baik.

Seperti inilah keadaan Masjidil Harram di malam hari, saya ambil gambar ini di halamannya.


begitu ramainya umat muslim yang melaksanakan shalat di malam hari, keadaan masjid dikatakan sangat ramai mulai dari shalat maghrib hingga isya, sehingga jika kita melakukan tawaf di jam-jam tersebut maka sulit bagi orang-orang tua. terutama bagi yang menggunakan kursi roda, sudah bisa dipastikan tidak bisa melakukan tawaf di bawah, karena para laskar tidak mengizinkan mengingat ramainya. Alhasil, selama 2 malam saya bersama ibu saya melakukan tawaf di atas. perbandingan waktunya sangat terasa sekali. sepupu saya dan saya memulai tawaf pada jam yang sama sekitar pukul 17.30 dan mereka selesai prosesi umroh sekitar pukul 19.00. Sedangkan saya selesai pada pukul 20.00 mendekati 21.00.

bagaimana keadaan di siang hari???seperti ini keadaan di siang hari.
Dan foto ini saya ambil menjelang para jemaah melakukan shalat Dzuhur, ketika adzan berkumandang seketika orang-orang bergegas menuju masjid dan para pedagang langsung menutup toko maupun barang dagangannya.

Niatnya sekedar mengabadikan moment ketika jemaah baru saja menunaikan shalat Dhuzur, tapi ternyata ada seekor burung yang ikut dalam foto ini. saya suka sekali foto ini.
Mungkin dari sekian kali saya mencoba mengabadikan Kabbah ini yang terbaik. Foto ini saya ambil sekitar pukul 9 keatas sehingga jemaah yang melakukan tawaf sudah tidak terlalu ramai.
Saya ingat betul, hari itu merupakan hari terakhir saya diberi kesempatan melaksanakan ibadah Umroh, jadi saya setelah shalat subuh ingin rasanya saya melakukan tawaf sendirian, namun mama ingin turut serta. terkadang ada rasa saya ingin menikmati ibadah ini sendirian. tapi apa daya, saya seperti marah sesaat, dalam hati saya di tempat sesuci ini pun masih ada setan yang merasuki pikiran saya. terlalu egois rasanya apabila saya meninggalkan mama saya sendirian dan saya tawaf sendirian. saya jauhkan rasa egois saya dan saya menuruti apa kata mama, ternyata kenikmatannya luar biasa. I kiss the Hajjar Aswad....setelah saya mengadu di depan Kabbah dan memohon ampun atas segala dosa yang pernah saya perbuat, dan saya meminta maaf kepada mama saya atas segala kesalahan saya selama ini.
 
Seperti yang saya tulis diatas, perjalanan ini merupakan salah satu titik tolak dalam kehidupan saya yang sekiranya telah membangunkan saya dari tidur saya yang panjang, titik tolak pertama ialah kepergian seorang ayah. Dari perjalanan ini saya mempelajari dua hal yang sangat sulit rasanya untuk di terapkan dalam kehidupan sehari-hari walaupun kedua hal ini sebenarnya hal yang sederhana. Yaitu, Sabar dan Ikhlas. Untuk Mama seorang, terima kasih atas hadiah yang engkau berikan kepada saya, perjalanan ini sekiranya akan menjadi bekal untuk pegangan hidup rachmat kedepannya. mengingat umur mama yang tidak lagi muda, fisik mama yang tidak lagi terlalu sehat, lambat laun mama akan pergi ninggalin rachmat untuk selamanya. Apa yang rahmat lakukan selama perjalanan umroh kita merupakan salah satu pengabdian rachmat kepada mama, di satu malam disaat kita sedang tawaf, dan saat itu saya sudah merasakan lelah yang begitu hebatnya, mama bertanya, "capek mat?" dan saya bilang "iya mah, sedikit" kemudian mama kembali berkata, "ini baru sekali kamu sikut mama ketika kamu masih dalam perut mama". bukan rasa kesal yang saya rasakan setelah perkataan itu namun rasa penyesalan atas apa yang selama ini telah saya lakukan kepada mama, seperti berbohong, berkata kasar maupun perbuatan dosa lainnya. maafin rachmat ya mah atas segala kesalahan yang udh pernah rahmat lakuin ke mama. you are my priority mom....
love u mommy...
Jusrida Tara the greatest mom....
 


Tuesday, August 31, 2010

eric clapton-tears in heaven



Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven
I must be strong, and carry on
Cause I know I don’t belong
Here in heaven
Would you hold my hand
If I saw you in heaven
Would you help me stand
If I saw you in heaven
I’ll find my way, through night and day
Cause I know I just can’t stay
Here in heaven
Time can bring you down
Time can bend your knee
Time can break your heart
Have you begging please
Begging please
(instrumental)
Beyond the door
There’s peace I’m sure
And I know there’ll be no more…
Tears in heaven
Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven
I must be strong, and carry on
Cause I know I don’t belong
Here in heaven
Cause I know I don’t belong
Here in heaven


pap,jika memang surga itu benar-benar ada dan kita dipertemukan lagi disana, apakah kita masih saling mengenal?begitu banyak hal yang ingin saya ceritakan...segala sesuatu tentang hidup saya setelah kepergian papa....

Monday, August 30, 2010

Mengejar Putu

“Pejuang Keadilan Melalui Sastra”

“Baiklah, kita bertemu di Teater Luwes di Institut Kesenian Jakarta pukul 4 sore ini”, kemudian telefon dimatikan dan saat ini saya sudah berada di tempat yang diberitahukan di telefon tadi. Ketika saya tiba ternyata sedang ada pagelaran festival teater yang di ikuti oleh beberapa kelompok. Pukul 18.00 tepat saya pun akhirnya bertemu dengan pria yang berbicara dengan saya di telefon tadi. Seorang pria yang identik dengan topi pet putihnya yang selalu menempel dikepalanya. Pria tersebut memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya, namun publik lebih mengenalnya dengan panggilan Putu Wijaya. Sejak ,duduk di SMP ia mengaku sudah mulai menulis cerita pendek dan ketika di SMA Singaraja mulai terjun ke dalam kegiatan sandiwara. Menulis baginya seperti menggorok leher tanpa menyakiti, bahkan kalau bisa tanpa diketahui. Hingga saat ini sudah tidak terhitung lagi karyanya dan begitu juga penghargaan yang pernah ia terima dari kegiatan berkeseniannya. Ketika ia kecil dulu disaat dirinya sedang menggemari kegiatan kesenian orang tuanya sempat cemas, maka ia pernah berkata, tegurlah saya kalau dengan saya berkesenian justru mengganggu nilai-nilai pelajaran saya disekolah”, dan ia membuktikan dengan prestasinya di sekolah. Namun ketika harus memilih program studi yang akan diambil di perguruan tinggi dia memilih untuk mengambil program pendidikan yang tidak berkaitan dengan kegitannya sejak SMP, justru ia mengambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta. “Orangtua saya berharap saya menjadi dokter, tapi dalam hal ilmu pasti saya tidak terlalu kuat”, ujarnya. Karena jaman dulu profesi yang umumnya diinginkan oleh sebagian besar orang tua agar anaknya memiliki masa depan yang cerah ialah menjadi insinyur, dokter atau misterenderchten yang saat ini dikenal dengan istilah sarjana hukum. Demi menyenangkan hati orang tuanya, beliau mendaftar di fakultas hukum, meskipun hati dan minatnya di bidang sastra akan tetapi ia juga tertarik dengan sejarah, problematika hukum dan fokus terhadap pelajaran itu semasa sekolah. Sikapnya seperti itu karena ia menghormati orang tua dan ingin menyenangkan orang tuanya sebagai perwujudan bakti anak terhadap orangtua. Namun ketika beberapa tahun kuliah, ternyata gelar misterenderechten di hapus dan diganti menjadi sarjana hukum, dengan kekecewaan yang cukup mendalam ia tetap menyelesaikan studinya hingga lulus. Tetapi ia menyadari bahwa tidak mungkin rasanya menyenangkan hati orang lain terus menerus, karena tentunya ia juga ingin menyenangkan dirinya sendiri. Setelah lulus kuliah ia berbicara dengan kedua orangtuanya, ”biarkan saya memilih jalan hidup saya sendiri dan melanjutkan apa yang saya mau, saya ingin fokus di bidang kesenian”. Kemudian ia memutuskan untuk ke Jakarta dan pada saat itu ia bekerja menjadi seorang wartawan dan aktif di pementasan drama. Sempat ada perasaan bersalah dalam dirinya kenapa ia tidak bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan. Kemudian ia mengutarakan hal ini kepada seorang teman dan memberikan pendapat yang membuat dirinya lega, ”mensosialisasikan pendidikan itu tidak harus pada bidangnya, apa yang kamu lakukan saat ini sebenarnya bisa dijadikan kelanjutan apa yang telah kamu pelajari, menegakkan keadilan tidak harus selalu dimeja hijau, akan tetapi melalui media lain juga bisa seperti sastra”. Maka dari itu pada prakteknya dalam tulisannnya ia mengaku juga banyak yang menceritakan tentang penegakkan keadilan dan mengenai kebenaran, hanya medianya yang berbeda.

Sebagai seorang sarjana hukum ia memiliki pandangan mengenai hukum yang berlaku di negara kita ini, menurut dirinya sejak dulu ia tidak percaya bahwa hukum dinegara kita bisa menyelesaikan permasalahan hukum dengan baik. Karena menurutnya selalu ada campur tangan dari dalam maupun dari luar sehingga hukum tidak bisa di tegakkan secara sempurna. Dilihat dari budaya masyarakat kita bahwa masyarakat feodal, masyarakat timur yang suka harmoni, tidak suka berperkara, dan kebiasaan dari masyarakat kita itu suka membela teman maupun saudara yang menyebabkan peristiwa hukum menjadi sesuatu yang menegangkan, menambah permusuhan sehingga peristiwa hukum itu lebih sering dihindari. Dan juga dasar hukum negara kita ini masih warisan dari Belanda, maka dari itu ia masih kurang percaya dengan hukum positif yang berlaku di negara kita saat ini. Hal itu juga yang menjadikan alasan dirinya untuk tidak terjun ke bidang hukum lebih jauh. Hukum tidak kuat karena pelaksanaannya berjalan sangat lemah, sehingga hukum tidak mempunyai kekuatan hukum. Karena bisa di interupsi dengan hal-hal lain seperti kekuasaan, politik, ekonomi, kekeluargaan sehingga hukum tidak bisa ditegakkan. Misalkan setiap orang yang berada diluar perkara selalu berkata untuk tegakkan hukum dan keadilan, sedangkan ketika sedang berperkara dia melakukan jalur pintas, menghalalkan segala cara sehingga hukum tidak jalan. Sering orang menegakkan hukum dengan cara yang tidak sesuai dengan jalur hukum. Jika temannya yang berperkara dibela habis-habisan, sedangkan jika orang lain dia mana peduli. Sebenernya hukum secara materi yang ada saat ini tidak salah, cuma oknum dan aparatnya yang menurut saya salah. Manusianya sendiri yang tidak ada keinginan untuk menegakkan hukum, hukum demi kepentingannya baru dia tegakkan sedangkan jika untuk orang lain mana peduli, bukan hanya dibidang hukum saja, tapi segala hal, demokrasi pun seperti itu. ketika kita bersinggungan dengan orang lain kita menjunjung tinggi hak kita, sedangkan kita tidak memperdulikan hak orang lain. Seperti ada pendapat yang mengatakan hukum itu ibaratnya pedang bermata dua, yang secara harfiah bisa diartikan bahwa hukum itu bisa membela seseorang yang memang seharusnya dibela, namun hukum juga bisa menjatuhkan seseorang yang seharusnya dibela. Dalam hal ini menurut saya tergantung seseorang dibalik pedang itu, misalkan contoh paling sederhana ialah pisau dapur, jika dipergunakan sebaik mungkin dan digunakan oleh seorang ibu untuk memasak maka tidak mungkin pisau itu akan menyakiti orang lain, lain hal apabila pisau itu digunakan oleh seorang penjahat justru pisau itu akan mematikan dan membahayakan orang lain. Pada dasarnya moralitas kita yang memang belum terbentuk secara baik, moralitas kita masih sakit. Moralitas kita tidak terurus dengan baik. Karena pendidikan moral kita dibiarkan tidak terurus dengan baik. Banyak yang bilang moralitas kita dapat dibentuk dan diluruskan dengan agama. Agama memang bisa, tapi sering juga para pemuka agama yang memiliki intepretasi dan kepentingan sehingga ajaran agamanya pun jadi menyeleweng dan itu dilakukan hanya demi kepentingannya pribadi. Hal tersebut yang menyebabkan moralitas kita tidak sehat. Menurut beliau perundangan yang berlaku saat ini juga terlalu banyak dan terlalu rumit sehingga masyarakat awam pun dibuat bingung karena terlalu banyaknya peraturan. Menurutnya apabila moralitas kita sehat bagaimana pun sederhananya peraturan kita pasti akan jalan, seperti UUD 1945, banyak yang bilang UUD 1945 kita terlalu sederhana, menurut dirinya bukan itu permasalahannya, sederhana itu bagus karena dengan sesederhana itu bisa melahirkan peraturan-peraturan lainnya. Kita manusia memang sakit, termasuk saya begitu juga anda. Kita sebagai anak bangsa ini memang sedang sakit, ketidakseimbangan dimana-mana. Di negeri ini semua orang melanggar hukum. Kita harus mengadakan suatu pencucian besar-besaran dari bawah ke atas. Selama ini kita hanya melihat keatas dan menyatakan bahwa diatas kotor, tapi kita lupa untuk melihat ke bawah, sebenarnya di bawah juga kotor. Maka itu saya bilang kita sakit sama-sama, tidak ada yang bisa menolong kalau kita semua sakit. Siapa yang bisa menyembuhkan kita? Setelah masa reformasi dulu yang ditawarkan untuk memperbaiki bangsa kita hanya dua hal yaitu stabilitas politik dan stabilitas ekonomi. Tidak pernah disebutkan stabilitas hukum dan kebudayaan. Dan dua hal tersebut menjadi primadona saat ini sehingga semua orang ingin jadi pengusaha dan politikus, keduanya bersatu dan mereka yang menguasai negara kita, tanpa ada uang tidak bisa menang dan kemenangan menghasilkan uang. Perihal kebudayaan dan hukum itu bisa disatupadukan. Kita harus menanamkan di dalam diri kita untuk menghargai hak dan kewajiban seseorang. Hukum itu sederhana, jika kita sudah bisa menghargai hak dan kewajiban seseorang dan tahu batasannya maka hukum di negara kita bisa ditegakkan sebagaimana mustinya. Jika kita mau bersama-sama dan bergotong-royong untuk membersihkan moralitas kita, maka perlahan bangsa ini akan membaik.

Setelah ia memutuskan untuk tidak terjun ke bidang hukum, ia memutuskan untuk fokus dibidang kesenian. Pada saat itu ia menyadari bahwa kehidupan seniman itu tidak menjanjikan apa-apa, belum menjamin kehidupan saya kecuali menjadi seniman yang profesional. Menjadi seorang seniman profesional itu tidak mudah, maka dari itu saya hanya berkesenian. Tujuan saya berkesenian itu hanya untuk berekspresi, seperti dalam seni teater, drama, mengarang. Bukan berkesenian untuk menjadikan tujuan kehidupan dan untuk menghidupi diri saya bahkan justru saya yang terkadang menghidupi kesenian itu sendiri. “Pekerjaan saya itu apa saja, saya pernah menjadi wartawan, menjadi juri apapun itu. Saya itu ibarat pemulung, dimana ada sampah-sampah yang mungkin masíh ada sisa makanan saya ambil”. Dalam hal berkesenian banyak seniman yang berkarya mengikuti kemauan produser, dalam hal ini ia mempunyai dua pendapat yaitu kesenian sebagai barang komoditi dan kesenian sebagai bentuk ekspresi. Kesenian sebagai barang komoditi itu bagian dari industri dan memang harus mengikuti pasar, apa yang diminta pasar maka itu yang dibuat dan itu bisa dijadikan sebagai pekerjaan, sedangkan seni sebagai bentuk ekspresi tidak melihat pasar, hanya sebatas bentuk ekspresi seseorang dan tidak berharap mendapat keuntungan secara materi. Dua hal tersebut memang sangat bertolak belakang, bentuk seni sebagai komoditi bisa mengantarkan seseorang menjadi kaya raya, sedangkan seni sebagai ekspresi hanya mengantarkan nama seseorang dikenal dan karyanya di akui. Tapi ada kemungkinan dua hal tersebut menyatu juga seperti film Laskar Pelangi dan Naga Bonar, kedua film tersebut mendapat keuntungan banyak dari segi materi, sedangkan dari sisi seni sebagai ekspresi juga diakui karyanya oleh pemerhati seni. Sangat jarang ditemukan kondisi dimana para kritikus dan masyarakat umum saling jalan bersamaan. Banyak juga karya yang laku tapi dari segi kualitas sama sekali tidak diakui, begitu juga sebaliknya karya yang nilai seninya diakui sedangkan dari segi materi tidak mendapat apa-apa. Dalam hal ini menurut beliau hanya ada satu kata yang bisa menjadi penengah diantara dua kondisi tersebut yaitu kompromi. Banyak yang menganggap kompromi itu satu kekalahan, dimana kita memberikan kesempatan kepada orang lain bahwa pemikiran kita ditawar dan kita mengikuti pasar. Kalau menurut saya kompromi itu kemenangan. Karena kita berhadapan dengan orang banyak, kita berekspresi itu pasti akan bertemu dengan penikmat, peminat dan penggemar kita, tidak mungkin kita bisa berkomunikasi secara baik dengan mereka kalau kita tidak memperhatikan mereka. Maka dari itu ide kita yang murni dari imajinasi kita harus kita berikan bumbu-bumbu yang terkadang harus memotong ide awal dan menambah dengan segala bumbu lain yang harus kita adaptasikan dari selera masyarakat. Kita perlu mengemas karya tersebut seolah-olah kita berekspresi untuk mereka, sebenarnya kita sedang berekspresi untuk diri kita sendiri tapi kita menolong ekspresi kita supaya dapat menggigit dengan telak siapa yang akan dijumpai oleh ekspresi tersebut. Ia mempelajari hal ini ketika ia menjadi wartawan, “tidak mungkin rasanya saya menulis menunggu mood saya sedangkan waktu terus berjalan dan tidak mungkin saya menulis hanya sesuatu yang saya suka secara pribadi, saya harus mengikuti apa yang dikatakan oleh pimpinan redaksi”. Kompromi itu juga bisa diartikan dengan tekanan, tekanan itu merupakan suatu tenaga rahasia yang bisa membuat kita untuk melakukan suatu hal yang tidak pernah bisa kita lakukan dalam keadaan biasa, jadi kompromi itu luar biasa tenaganya. Jika tidak ada kompromi atau tekanan tersebut kita tidak bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal. Saya termasuk individu yang menganggap kata kompromi sebagai suatu kemenangan. Baginya tidak ada masalah perihal karyanya itu lebih ke komoditi atau sekedar ekspresi, tapi kompromi itu ada batasnya. pernah ia mendapatkan penawaran dari satu produser dengan segala tuntutannya, pada saat itu menganggap ini tantangan, ia coba untuk memenuhi permintaan dari produser tersebut dengan segala tuntutannnya”. Ia coba buat satu cerita sesuai keinginannya, ketika sudah selesai ia coba berikan materi yang telah ia buat, tapi si produser menyatakan ketidakpuasannya, “kurang action”, ujar produser tersebut. Lalu ia coba revisi kembali dan menyerahkan materi yang sudah coba ia perbaiki, dan produser tersebut tetap menuntut perubahan dari materinya, “kurang adegan sensual”, katanya. Maka ia memutuskan untuk menghentikan proyeknya itu dan ia kembalikan uang si produser tersebut. “Buat apa saya mendapatkan uang banyak tapi karya saya tidak diakui, uang habis karya juga tidak diakui”, ia tidak mau jika dimakan bulat-bulat dengan kompromi sendiri. “Produser itu kan umumnya hanya pedagang biasa yang mau meraup keuntungan, walaupun katanya produser tersebut memiliki ide cerita dan sebagainya, sebenarnya tujuan utamanya hanya materi”.

Perihal selera pasar kita yang katanya lebih suka dengan film horor, sensual, sinetronnya juga seperti yang kita lihat sekarang, infotainment yang menjual sensasi itu tolak ukurnya darimana? Apakah masyarakat kita haus akan sensasi dan ingin tampil di televisi? Saya sering menerima sms dari rekan politikus yag menginformasikan bahwa ia masuk televisi. Apakah benar orang indonesia seleranya seperti ini? Jika Indonesia ini terdiri dari dua ratus dua puluh juta jiwa penduduk sedangkan menurut info suatu film berhasil ditonton oleh lima ribu jiwa. Apakah sebanding dua ratus dua puluh juta jiwa tersebut di representasikan dengan lima ribu jiwa tersebut. Itu hanya pendapat dari sang produser yang notabene hanya ingin meraup keuntungan, jika dikatakan selera pasar itu hanya menurut dia, lebih tepatnya selera produsernya, lagipula juga pilihan yang ada hanya film-film seperti itu. “Saya percaya bahwa selera masyarakat Indonesia tidak serendah itu”. Pada suatu ketika nanti ketika stándar pendidikan, ekonomi, tingkat kritis masyarakat sudah merata kondisinya tidak akan separah ini walaupun masih tetap ada. Hal-hal yang berbau maksiat, mesum dan sensasi itu dimana-mana ada dan itu bagian dari romántika dan dialektika dari sebuah kehidupan, tapi semoga di masa depan tidak sedasyat saat ini, ibaratnya sebuah kebun apel yang sudah di semprot dengan anti hama akan tetapi tetap saja ada pohonnya yang buahnya masih di gerogoti ulat.

Kesenian kita sudah terlalu jauh masuk ke industri memasuki suatu keadaan yang berbahaya. Sikap kritis dari media sangat perlu dan hak-hak masyarakat juga perlu diperjuangkan. Rakyat sebgai penonton harus dilindungi dan mempunyai hak untuk mengatakan tidak terhadap acara yang tidak berkualitas. Buat apa berkeluh kesah menyatakan sinetronnya jelek tapi dia tidak melakukan apa-apa. Seharusnya kita sebagai indvidu yang hidup di negara hukum ini harus memperjuangkan hak dan kewajibannya. Seperti apa? misal, layangkan surat ke komisi penyiaran. Tuangkan segala kekesalan dan kritikannya agar televisi tidak menayangkan suatu program. Maka dari itu dirinya secara pribadi tidak setuju kalau lembaga sensor dihapuskan, karena diseluruh dunia ada sensor dan komisi penyiaran juga harus lebih tegas dalam hal menyeleksi program siaran yang pantas untuk di tayangkan di televisi. Di negara lain masyarakatnya sudah tumbuh kesadaran akan sensor. Meskipun beberapa negara tidak memiliki lembaga sensor, tapi parental guide dan masyarakat sudah mensensor hal yang tidak baik misal dalam penggunaan kata, jika ada kata-kata kasar suaranya di hilangkan dan ada jam-jam tertentu dalam hal penayangan program televisi. Sedangkan disini, “saya ingat betul ketika anak saya masih berumur dibawah 10 tahun saat itu dan saya menonton film Batman yang tertera batas umurnya itu umur 13 tahun, “Saya tanya keamanannya apakah anak saya boleh masuk karena belum berumur 13 tahun?”Jawaban dari orang tersebut “yah terserah bapak”. Apa itu? Apakah keuntungan secara materi lebih penting daripada moralitas?Seperti reality show, di pertunjukkan secara jelas mereka berkelahi dan caci memaki dan itu semua hanyalah kebohongan. Moral apa ini?ikatan moral kita untuk menjaga moral dan masa depan bangsa ini sudah tidak ada, program seperti itu hanya mendatangkan duit saja sedangkan masalah pendidikan yang bisa diambil tidak ada, yang penting profit dari iklan. Kecintaan akan materi itu sudah mencuci otak kita seolah materi itu segalanya. “Maka dari itu kita butuh hukum, hukum dan segala peraturannya itu tidak menyiksa kita, justru memberikan arahan kepada kita apa yang pantas kita lakukan atau tidak”, karena selama ini sebagian besar orang mengangap hukum itu membatasi bagaikan pedang yang melarang dan membelenggu kita”, ujar penggemar Led Zeppelín dan Deep Purple ini.


niat awalnya ialah mewawancarai seorang christine hakim. tapi apa daya beliau nampaknya sedang sibuk dengan syuting eat,pray, love saat itu. disaat dedy mizwar menggantungkan dan memberikan janji-janji palsu, saat itu saya sedang berada di taman ismail marzuki dan melihat seorang pria yang tidak pernah lepas dari topi petnya sedang melangkah terburu-buru. segera saya berlari mengejar beliau dan menanyakan nomor telepon beliau. keesokan harinya saya coba hubungi nomor yang beliau kasih, saya utarakan maksuda saya dan lusa saya sudah berada di teater mini IKJ. awal wawancara saya sedikit kebingan karena beliau tidak mau menjawab pertanyaan yg sifatnya data. dengan sedikit memutar otak akhirnya sesi wawancara pun berhasil diselesaikan dengan hasil yang menurut saya maksimal.

Sejujurnya gue positif

hidup tidak berhenti di selembar kertas bertuliskan "reactive".

1 Desember merupakan hari AIDS Internasional. Dengan ditetapkan hari tersebut sebagai hari AIDS Internasional bukan sekedar moment yang kita sambut dengan bahagia melainkan sebagai peringatan kepada kita sebagai umat manusia untuk mengetahui dan menyadari akan betapa bahayanya penyakit menular yang disebabkan oleh virus HIV. Sedikit penjelasan mengenai HIV dan AIDS. HIV ialah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus yang menyebabkan rusaknya atau melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia. Virus HIV membutuhkan sel-sel kekebalan kita untuk berkembang biak. Secara alamiah sel kekebalan kita akan dimanfaatkan, hingga lama-kelamaan sel kekebalan tubuh kita habis dan jumlah virus menjadi sangat banyak. AIDS adalah kependekan dari Acquired Immune Deficiency Síndrome, yaitu merupakan kumpulan beberapa gejala akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. AIDS muncul setelah virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh menusia selama lima ingá sepuluh tahun lebih. Sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan satu atau lebih penyakit dapat timbul, karena lemahnya sistem kekebalan tubuh tadi, beberapa penyakit bisa menjadi lebih parah dari biasanya.

Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain. Dilihat dari gejalanya terdapat 2 gejala seseorang terkena HIV yaitu gejala mayor (umum terjadi) dan gejala minor (tidak umum terjadi). Gejala mayor, seperti berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan, demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan, penurunan kesadaran dan gangguan neurologis. Sedangkan gejala minor seperti batuk menetap lebih dari 1 bulan, infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita. HIV dapat di tularkan dengan cara, berhubungan seks berganti - ganti pasangan, menggunakan satu jarum suntik secara bergantian atau menggunakan jarum bekas, dan ibu yang terinfeksi HIV bisa menularkan kepada bayi yang dikandungnya melalui kelahiran atau air susu ibu, transfusi darah. Sama halnya denyan penyakit yang lain, pencegahan lebih baik dari pada mengobati, selama belum menikah tidak berhubungan seks sama sekali, menggunakan sikat gigi atau pisau cukur sendiri, karena selain untuk kebersihan pribadi, jika terdapat darah akan ada resiko penularan dengan virus lain yang diangkut aliran darah (seperti hepatitis) bukan hanya HIV, berlaku saling setia alias berhubungan seks hanya denga pasangan kita yang sah, memakai kondom saat berhubungan seks, tidak menggunakan satu jarum suntik untuk dua orang atau lebih.


Sebagai makhluk sosial, kita diberikan dua pilihan dalam menjalani kehidupan. Ada hitam dan putih, baik dan buruk. Sebagai manusia yang merdeka tentunya kita memiliki hak asasi dalam menguasai diri kita sepenuhnya. Tapi terkadang kebebasan tersebut terlalu melenceng sehingga kita lupa akan batasan-batasan yang ada. Kita terlena dalam menikmati kebebasan tersebut sehingga membuat kita terkadang terlalu jauh dari tuhan sehingga terjerumus dalam satu lingkaran setan. Seseorang yang positif mengidap HIV tetaplah seorang manusia yang utuh, tentunya kita juga sudah seharusnya memperlakukan individu tersebut tanpa ada perbedaan. Ada yang beranggapan bahwa seseorang yang positif terkena virus HIV itu sudah merupakan hukuman dari tuhan. Jikalau memang begitu, apakah kita sebagai umat manusia pantas untuk menghukum dan menghakimi individu tersebut? Suatu kesalahan harus dibayar dengan suatu tanggung jawab, dengan menerima keadaan mereka sebagai pengidap HIV menurut saya sudah cukup. Saya pribadi memiliki kepercayaan bahwa setiap individu yang memiliki perilaku yang bisa dikatakan liar pasti ada sisi kelembutannya, setiap individu yang positif terkena HIV pasti memiliki sisi positif yang bisa kita jadikan panutan. Tidak banyak orang yang mau terbuka mengenai anggota keluarganya yang positif terkena HIV. Mereka menganggap bahwa itu suatu aib yang telah mencoreng nama besar keluarga mereka. Umumnya yang mau terbuka justru teman dan hanya beberapa pengidap yang mau berbagi dengan masyarakat.

Satu contoh dikemukakan oleh seorang pria berumur 33 tahun seorang gitaris dari sebuah band alternatif, ia memiliki seorang teman yang positif mengidap HIV yang saat ini sudah meninggal dunia. Awal kenal dengan si penderita itu dari seorang teman dan akhirnya sempat membuat sebuah grup musik. Hubungannya dengan almarhum bisa dibilang cukup dekat secara personal. Menurut dirinya, temannya ini memiliki kepribadian yang baik, tidak banyak omong, sederhana dan ramah. Awal kenal, temannya itu belum positif mengidap HIV. Dia diberitahu oleh temannya itu sekitar setahun sebelum akhirnya dia meninggal. ”Jujur gue tau persis perasaan dia saat itu, keliatan banget kalau dia menutupi hal ini dari orang sekitar kecuali gue, gue tidak masalah dan tidak akan merubah kadar pertemanan gue dan dia, mungkin dia ada rasa takut kalau seandainya gue berubah sikap ke dia”. Menjelang akhir hayatnya, temannya itu sempat tinggal bersamanya selama 3 bulan, untuk membahas materi lagu dan lirik karena saat itu kita sedang dalam proses rekaman album perdana. Dengan kondisinya seperti itu, ia tetap memiliki semangat dalam menghasilkan karya. Dengan kondisinya ia tetap menjalani hidup sebagaimana orang lain lakukan, tetap semangat mengejar mimpi dan obsesinya sebagai seorang musisi. Namun, lama-lama kondisi tubuhnya semakin tidak mendukung, hingga suatu malam dia mengalami anval dan dibawa kerumah sakit, esok harinya dia pergi untuk selamanya.

”Semangat dari almarhum yang membuat gue tetap semangat dalam menjalani kehidupan, karena sejujurnya gue sejak Januari 2009 dinyatakan positif HIV”. Dari awal mengenal obat-obatan terlarang ia sudah mengetahui resikonya suatu saat nanti ia akan terkena HIV, tapi saat itu ia tidak terlalu jauh memikirkannya. Awal mengetahui dirinya positif HIV ia bisa menerima keadaan, dan ia berharap akan selamanya seperti ini tanpa pernah sedikitpun merasa putus asa dan rendah diri. Awalnya ia tetap beraktivitas seperti biasa, kerja dan tetap bermain musik, akan tetapi kondisi fisiknya tidak mendukung. ”Saat ini gue turutin apa kata dokter”, anjuran dari dokter agar hidup lebih sehat dengan mengkonsumsi obat ARV yang harus dikonsumsi seumur hidup untuk memperlambat pergerakan dari virus HIV di tubuhnya dan mengikuti terapi-terapi. Dia lebih memilih untuk berobat dengan dokter umum dibanding masuk rehabilitasi, karena justru dengan masuk pusat rehabilitasi baginya hanya akan memperluas pergaulannya dengan sesama pengguna, ”sama saja seperti masuk lingkaran setan”. ”Alhamdulillah, saat ini badan gue sudah gemukan lagi”. Ia pun mengucap syukur karena memiliki keluarga yang bisa dikatakan bersifat terbuka, karena sejak awal dirinya dinyatakan positif HIV, dukungan dari keluarganya sangat besar. Justru mereka takut seandainya dengan kondisi saat ini malah jadi putus asa, ia selalu dikasih masukan yang positif oleh keluarga seperti tetap semangat, jangan menyerah dan selalu tetap inget tuhan. Ia mengakui saat ini ia memandang hidup jadi lebih berbeda, walaupun tidak terlalu banyak perubahan tapi ia mulai mengerti bagaimana hidup sehat, setidaknya ia mulai mengurangi konsumsi akan ”putaw”, rokok, mulai olah raga teratur dan tentunya secara spiritual ia berusaha untuk lebih mendekatkan diri dengan tuhan. Keinginannya saat ini ialah ia ingin memulai hidup baru dan seperti pada umumnya seorang lelaki seusianya yaitu hidup mapan dan tetap menyalurkan hasrat bermusiknya.

Pada dasarnya manusia terlahir tidak sempurna, dan tidak ada gunanya juga untuk menyesali apa yang telah terjadi dalam hidup. Setiap manusia pasti melakukan kesalahan, dan kita sebagai sesama umat manusia tidak pantas rasanya untuk menghakimi. Satu hal yang pasti dibutuhkan oleh seseorang yang positif mengidap HIV ialah dukungan dari orang –orang terdekatnya baik itu keluarga dan teman-teman dekatnya. ”Dukungan merupakan obat yang paling ampuh, hal ini diucapkan oleh seorang tato artist yang kehilangan seorang teman karena positif mengidap HIV. Menjelang akhir hidup dari temannya ia dan kawan-kawannya selalu berusaha untuk memberikan semangat agar temannya itu tidak patah semangat dan makin memperburuk keadaannya dan kondisi kesehatannya. Tapi tuhan berkata lain. Dengan uluran tangan dan rangkulan kita dibahu mereka tentunya akan memberikan semangat bagi mereka dalam menjalani hidup. Setiap peristiwa yang kita alami dalam hidup pasti ada alasannya dan bisa dijadikan suatu pelajaran yang berguna baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Hal ini tentunya menjadi pelajaran yang berharga bagi kita, agar tidak salah mengambil keputusan dalam menjalani hidup. Manusia dimata tuhan pada dasarnya sama, tidak ada bedanya, dengan adanya sikap diskriminasi terhadap penderita HIV tentunya sangat tidak adil. Dengan kita mau menerima dan merangkul mereka itu memang tidak menyembuhkan mereka secara fisik akan tetapi meringankan beban mental mereka.


awalnya niat saya ialah mewawancarai seorang teman yang mempunyai teman yang positif HIV, tapi ketika sesi tanya jawab dimulai, ketika saya sudah mau mengakhiri tanya jawab, kemudian pria tersebut berkata, "ada yang mau gue kasih tau juga sama lo, sebenarnya gue juga positif!kalo gak percaya gue ambil hasil dari laboratorium yang memvonis gue positif"...

Reportase No Use For A Name

No Use For A Name World Tour 2009
“Penantian sekian lama yang terbayarkan tanpa sedikit kekecewaan”
Setelah penantian 22 tahun akhirnya “No Use For A Name” (NUFAN) memasukan Indonesia ke dalam daftar tur dunia mereka yang bernama “No Use For A Name Indonesia Tour 2009”. NUFAN adalah sebuah band melodik punk dari San Jose, California, Amerika Serikat dibentuk pada tahun 1987 oleh Chris Dodge (gitar), Steve Papoutsis (bass), Rory Koff (drum), dan Tony Sly (vokal). Terhitung sejak berdirinya mereka telah 7 album dirilis melalui label “Fat Wreck Chords” yang merupakan label kepunyaan Fat Mike (NOFX). Malam itu, pada posisi gitar dibantu oleh teman mereka, Chris Rest yang merupakan gitaris Lagwagon karena ketika mengadakan tur promo album “The Feel Good Record of the Year” di Eropa, Dave Nassie sang gitaris menyatakan mundur untuk bergabung dengan band metal hardcore Bleeding Through.
Acara ini berlangsung di Hall Concert Bumi Wiyata Depok, walaupun lokasi event ini terbilang cukup jauh dari pusat kota dan malam itu Jakarta di guyur hujan yang sangat deras, akan tetapi tidak menyurutkan para fans untuk berdatangan, tidak hanya dari Jakarta, melainkan dari Bandung, Semarang dan Jogja. “No Use For A Name Indonesia Tour 2009” merupakan event keempat yang diadakan oleh Hit N' Run Production setelah sebelumnya mendatangkan Not Available, Misery Signal, dan Have Heart. Acara dimulai pada pukul 19.00 yang langsung dibuka oleh penampilan 4 band punk melodik lokal. Yang beruntung sebagai band pembuka pertama ialah Speak Up yang bermain cukup rapih dan menggigit, namun sayangnya crowd masih terlihat malu-malu untuk merapat ke stage. Band selanjutnya ialah salah satu pahlawan melodik punk Jakarta, Kuro. Malam itu mereka bermain dengan membawakan tembang-tembang mereka dari album “Ever Before”, perlahan namun pasti crowd pun mulai merapat ke stage, diakhir penampilan mereka sempat mengeluarkan statement mengenai album baru mereka yang akan segera rilis di tahun 2010. Disusul oleh No Label yang sedikit mengalami gangguan dengan sound mereka, tapi mereka bermain cukup rapih. Sebagai band pembuka terakhir malam itu ialah Do Sounds.
Sekitar pukul 21.15 WIB lampu-lampu mulai dipadamkan dan satu persatu personel NUFAN memasuki stage dan konser pun dimulai dengan sapaan dari sang vokalis “hello Indonesia, You guys are awesome”, raungan distorsi pun mulai terdengar dan tata cahaya pun mulai mewarnai panggung. “chasing rainbows” sebagai lagu pertama digeber dilanjutkan dengan, “invicible” dan “I want to be wrong” direspon oleh crowd dengan berdansa liar, body surfing dan bernyanyi bersama tapi tidak sedikitpun menimbulkan kericuhan karena mereka datang dengan tujuan untuk bersenang-senang dan melihat band idola mereka. Gelombang moshpit pun tak terelakan, hal ini membuat para personel No Use For A Name semakin bersemangat, lagu seperti Not Your Savior, Dumb Reminders, Don't Miss the Train, Room 19, The trumpet player dan beberapa tembang andalan mereka yang rata-rata diambil dari album lama mereka. Total 22 lagu dimainkan oleh mereka dengan penampilan yang atraktif dari melompat, berlari kesana kemari dan komunikasi yang terjalin dengan baik dengan crowd. Tak terasa sekitar sejam lebih mereka bermain menghibur para die hard fans mereka, dengan berat hati mereka harus menyudahi konser tersebut, tapi seolah crowd tidak merasa terpuaskan, ketika para personel NUFAN turun dari panggung serentak crowd berteriak “we want more”, dan satu persatu personel NUFAN kembali hadir ke atas panggung dan memainkan “Let Me Down”, “The Trumpet Player, dan “On The Outside sebagai pentup konser mereka. Hit n Run entertainment sebagai pihak promotour layak diberikan acungan jempol, karena mereka telah mengorganize event ini dengan kualitas yang baik seperti lighting, sound system yang di dukung oleh Three Chord System dan tidak sedikitpun terlihat raut wajah kekecewaan dari para crowd malam ini karena mereka telah mendapat suguhan yang berkualitas.

dipublikasikan oleh Far Magazine.